Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Sejarah Peristiwa Rengasdengklok
Peristiwa Rengasdengklok adalah peristiwa dimulai dari "penculikan" yang dilakukan oleh sejumlah pemuda Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh dari perkumpulan "Menteng 31" terhadap Soekarno dan Hatta. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 03.00. WIB, Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia,sampai dengan terjadinya kesepakatan antara golongan tua yang diwakili Soekarno dan Hatta serta Mr. Achmad Subardjo dengan golongan muda tentang kapan proklamasi akan dilaksanakan.
Menghadapi desakan tersebut, Soekarno dan Hatta tetap tidak berubah pendirian. Sementara itu di Jakarta, Chairul dan kawan-kawan telah menyusun rencana untuk merebut kekuasaan. Tetapi apa yang telah direncanakan tidak berhasil dijalankan karena tidak semua anggota PETA mendukung rencana tersebut.
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 di lapangan IKADA(yang sekarang telah menjadi lapangan Monas) atau di rumah Bung Karno di Jl.Pegangsaan Timur 56. Dipilih rumah Bung Karno karena di lapangan IKADA sudah tersebar bahwa ada sebuah acara yang akan diselenggarakan, sehingga tentara-tentara jepang sudah berjaga-jaga, untuk menghindari kericuhan, antara penonton-penonton saat terjadi pembacaan teks proklamasi, dipilihlah rumah Soekarno di jalan Pegangsaan Timur No.56. Teks Proklamasi disusun di Rengasdengklok, di rumah seorang Tionghoa, Djiaw Kie Siong. Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang di Rengasdengklok pada Kamis tanggal 16 Agustus, sebagai persiapan untuk proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Karena tidak mendapat berita dari Jakarta, maka Jusuf Kunto dikirim untuk berunding dengan pemuda-pemuda yang ada di Jakarta. Namun sesampainya di Jakarta, Kunto hanya menemui Wikana dan Mr. Achmad Soebardjo, kemudian Kunto dan Achmad Soebardjo ke Rangasdengklok untuk menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur. Achmad Soebardjo mengundang Bung Karno dan Hatta berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Pada tanggal 16 tengah malam rombongan tersebut sampai di Jakarta.
Keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 pernyataan proklamasi dikumandangkan dengan teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik menggunakan mesin ketik yang "dipinjam" (tepatnya sebetulnya diambil) dari kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman, Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.
Sumber: id.wikipedia.org
Tag :
Story
Telling Story "Malin Kundang"
Malin Kundang
Once upon a time, on the north coast of Sumatra lived a poor woman and his son. The boy was called as Malin Kundang. However, as they were only fisherman’s helper, they still lived in poverty.
Tag :
Story
Sejarah Grup Band SLANK
Tag :
Story
Legenda Danau Batur Bali, Indonesia
LEGENDA DANAU BATUR:
Kebo
Iwa adalah seorang raksasa yang bertubuh besar. Tubuhnya gendut dan
doyan makan. Makin hari tubuhnya bertambah besar. Makanannya banyak
sekali. Ia suka membantu penduduk desa membuat rumah, mengangkat batu
besar dan membuat sumur. Ia tidak minta imbalan apa-apa, hanya saja
penduduk desa harus menyediakan makanan yang cukup untuknya.
Jika
sampai dua hari Kebo Iwa tidak makan maka ia akan marah. Jika marah ia
akan mengamuk dan merusak apa saja yang ada di depannya. Tak peduli
rumah atau pura akan dirusaknya. Kebun dan sawah juga dirusaknya.
Karena
tubuhnya sangat besar, makannya pun sangat banyak. Porsi makan Kebo Iwa
sama seperti menyiapkan makanan seratus orang. Walau penduduk desa
sudah tidak membutuhkan tenaganya, mereka harus tetap menyediakan
makanan untuk Kebo Iwa. Karena jika Kebo Iwa lapar ia akan marah dan
menghancurkan apa saja.
Hingga
tibalah musim kemarau. Semua lumbung padi milik penduduk mulai kosong.
Beras dan bahan makanan lain mulai sulit diperoleh. Setelah sekian lama,
hujan tidak kunjung dating. Penduduk mulai khawatir keadaan Kebo Iwa.
Sebab, jika ia lapar pasti akan mengamuk.
Benar
saja kekhawatiran penduduk. Suatu hari Kebo Iwa merasa lapar, tapi
makanan belum siap karena persediaan penduduk desa sudah habis.
Jangankan untuk Kebo Iwa, untuk mereka makan sendiri saja sudah tidak
ada.
Kebo
Iwa pun marah dan mengamuk. Ia menghancurkan rumah-rumah milik
penduduk. Pura sebagai tempat ibadah juga tidak luput dari amukan Kebo
Iwa.
Penduduk
melarikan diri ke desa tetangga. Tapi Kebo Iwa terus mengejar sambil
berteriak-teriak, “Mana makanan untukku! Atau kalian lebih suka
kuhancurkan!”
Kebo
Iwa semakin ganas. Ia tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga
memakan hewan-hewan ternak milik penduduk. Para penduduk pun juga
menjadi korban keganasan Kebo Iwa.
Melihat
kerusakan yang ditimbulkan Kebo Iwa maka penduduk menjadi kesal dan
marah. Mereka mengatur siasat untuk membunuh Kebo Iwa. Mereka mengajak
berdamai Kebo Iwa. Dengan segala macam cara akhirnya mereka bisa
mengumpulkan makanan yang banyak lalu mendekati Kebo Iwa.
Pada saat itu Kebo Iwa baru saja menyantap seekor kerbau. Ia kekenyangan dan berbaring di atas rumput.
“Hai Kebo Iwa …!” tegur Kepala Desa.
“Ada apa? Mau apa kalian mendekatiku?” tanya Kebo Iwa dengan curiga.
“Sebenarnya
kami masih membutuhkan tenagamu. Rumah-rumah dan pura banyak yang kau
hancurkan. Bagaimana kalau kau membantu kami membangunnya kembali. Kami
akan menyediakan makanan yang banyak untukmu sehingga kau tak kelaparan
lagi,” kata Kepala Desa.
“Makanan …? Kalian akan menyediakan makanan yang enak untukku?” mata Kebo Iwa berbinar mendengar kata makanan.
“Aku setuju … aku akan buatkan untuk kalian!”
Kebo
Iwa senang, tidak curiga sedikit pun. Keesokan harinya, Kebo Iwa mulai
bekerja. Dengan waktu yang terhitung singkat, beberapa rumah selesai
dikerjakan oleh Kebo Iwa. Sementar itu, para warga sibuk mengumpulkan
batu kapur dalam jumlah bear. Kebo Iwa merasa bingung mengapa para warga
sangat banyak mengumpulkan batu kapur. Padahal kebutuhan batu kapur
untuk rumah dan pura sudah cukup.
“Mengapa kalian mengumpulkan batu kapur begitu banyak?” tanya Kebo Iwa.
“Ketahuilah
Kebo Iwa. Setelah kamu selesai membuat rumah dan pura milik kami, kami
akan membuatkanmu rumah yang besar dan sangat indah,” kata Kepala Desa.
Kebo
Iwa sangat senang mendengarnya. Tidak ada kecurigaan sedikit pun
darinya. Ia semakin semangat membantu warga. Hanya dalam beberapa hari,
rumah-rumah dan pura milik penduduk selesai dikerjakan. Pekerjaannya
hanya tinggal menggali sumur besar. Pekerjaan ini memakan waktu cukup
lama dan memerlukan lebih banyak tenaga. Kebo Iwa menggunakan kedua
tangannya yang besar dan kuat untuk menggali tanah sampai dalam. Semakin
hari lubang yang dibuatnya semakin dalam. Tubuh Kebo Iwa pun semakin
turun ke bawah. Tumpukan tanah bekas galian yang berada di mulut lubang
pun semakin menggunung. Karena kelelahan, Kebo Iwa berhenti untuk
istirahat dan makan. Ia makan sangat banyak. Karena kelelahan setelah
makan ia mengantuk, ia pun tertidur dengan mengeluarkan suara dengkuran
yang sangat keras.
Suara
dengkuran Kebo Iwa terdengar oleh para penduduk yang sedang berada di
atas sumur. Akhirnya, para penduduk segera berkumpul di tempat lubang
sumur tersebut. Mereka melihat Kebo Iwa sedang tertidur pulas di
dalamnya. Pada saat itulah Kepala Desa memimpin warganya untuk
melemparkan batu kapur yang sudah mereka siapkan sebelumnya ke dalam
sumur. Karena tertidur lelap, Kebo Iwa belum tidak menyadari dirinya
dalam bahaya.
Ketika
air di dalam sumur yang bercampur kapus sudah mulai meluap dan
menyumbat hidung Kebo Iwa, barulah raksasa itu tersadar. Namun, lemparan
batu kapur dari para warga semakin banyak. Kebo Iwa tidak dapat berbuat
apa-apa. Meskipun memiliki badan sangat besar dan tenaga yang sangat
kuat, ia tidak mampu melarikan diri dari tumpukan kapur dan air sumur
yang kemudian menguburnya hidup-hidup. Kebo Iwa menggelepar-gelepar
selama beberapa saat, gerakannya menimbulkan gempa sesaat tapi kemudian
reda dan diam. Kiranya Kebo Iwa telah tewas terkubur di dalam sumur.
Sementara
itu air sumur semakin lama semakin meluap. Air sumur itu membanjiri
desa dan membentuk danau. Danau itu kini dikenal dengan nama Danau
Batur. Sedangkan timbunan tanah yang cukup tinggi membentuk bukit
menjadi sebuah gunung dan disebut Gunung Batur. ***
Sumber:
MB. Rahimsyah, Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara 33 Provinsi, Surabaya: Serba Jaya. Hal. 102 – 106.
Tag :
Story
Kisah Kedurhakaan Tsa'labah
Siang itu Rasulullah sedang salat berjamaah bersama para sahabatnya. Di antara deretan sahabat yang makmum di belakang Rasulullah, tampak seorang tengah baya yang kusut rambutnya dan berpakaian lusuh, Ia dikenal sebagai seorang sahabat Rasulullah yang tekun beribadah, bernama Tsa' labah.
Setelah Rasulullah menyelesaikan salat, Tsa'labah segera beranjak pulang tanpa membaca wirid dan berdoa terlebih dahulu. Rasulullah pun menegurnya, "Tsa'labah, mengapa engkau tergesa-gesa pulang? Tidakkah engkau berdoa terlebih dahulu. Bukanlah tergesa-gesa keluar dari masjid adalah kebiasaan orang-orang munafik."
Tsa'labah menghentikan langkahnya, ia sangat malu ditegur oleh Rasulullah. Tetapi, apa mau dikata, terpaksa ia berterus terang kepada Rasulullah. "Wahai Rasulllah, saya hanya memiliki sepasang pakaian untuk salat dan saat ini istriku di rumah belum melaksanakannya salat karena menunggu pakaian yang aku kenakan ini. Pakaian yang hanya sepasang ini kami pergunakan salat secara bergantian. Kami sangat miskin. Untuk itu wahai Rasulullah, jika engkau berkenan, doakanlah kami agar Allah menghilangkan semua kemiskinan kami ini dan memberi rezeki yang banyak."
Rasulullah tersenyum mendengar penuturan Tsa'labah, lalu beliau berkata, "Tsa'labah sahabatku, engkau dapat mensyukuri hartamu yang sedikit itu lebih baik dari pada engkau bergelimang harta tetapi engkau menjadi manusia yang kufur.
Nasihat Rasulullah sedikit menghibur hati Tsa'labah, karena sesungguhnya yang ada dalam benaknya adalah dia sudah bosan menjalani hidup yang serba kekurangan. Satu-satunya cara agar cepat menjadi kaya adalah memohon doa kepada Rasulullah. Doa seorang utusan Allah pasti didengar Allah. Itulah yang selalu menjadi angan-angan Tsa'labah hingga keesokan harinya ia kembali menemui Rasululllah, dan memohon agar beliau mau mendoakannya menjadi orang kaya.
Rasulullah kembali menasihati, "Wahai Tsa'Labah. Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, seandainya aku memohon kepada Allah agar Gunung Uhud menjadi emas, Allah pasti mengabulkannya. Tetapi, apa yang terjadi jika Gunung Uhud benar-benar menjadi emas? Masjid-masjid akan sepi! Semua orang akan sibuk memupuk kekayaan dari gunung itu. Aku khawatir jika engkau menjadi orang kaya, engkau akan lupa beribadah kepada Allah."
Tsa'labah terdiam mendengar nasihat Rasulullah, namun dalam hatinya berkecamuk. "Aku mengerti Rasululllah tidak mau mendoakan karena beliau sayang kepadaku. Beliau khawatir jika aku menjadi orang kaya, aku akan menjadi golongan orang-orang yang khufur. Tetapi aku tidak seburuk itu, justru dengan kekayaan yang aku miliki, aku akan membela agama ini dengan hartaku."
Akhirnya Tsa'labah pulang. Ia merasa malu jika terus memaksa Rasulullah agar mau mendoakannya. Tapi keesokan harinya ia tidak kuasa menahan dorongan hati untuk segera terbebas dari belenggu kemiskinan. Ditemuinya Rasululllah, dan memohon untuk ketiga kalinya agar Rasululllah mau mendoakan. Kali ini Rasulullah tidak menolak keinginan Tsa'Labah. Beliau menengadahkan tangan kelangit sambil berkata, "Ya Allah, limpahkanlah rejeki-Mu kepada Tsa'Labah." Kemudian Rasulullah memberikan kambing betina yang sedang bunting kepada Tsa'Labah. "Peliharalah kambing ini baik-baik", pesan Rasululllah. Tsa'Labah pun pulang membawa kambing pemberian Rasululllah dengan hati berbunga-bunga. Dengan modal kambing serta doa Rasulullah, ia yakin akan menjadi orang yang kaya raya.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, Tsa'Labah yang dulu miskin dan lusuh telah berubah menjadi orang yang kaya dan terpandang. Kambingnya berjumlah ribuan. Di setiap lembah dan bukit terdapat kambingnya Tsa'Labah. Ia semakin disibukkan dengn harta kekayaannnya. Jika dulu setiap salat lima waktu selalu berjamaah di masjid, sekarang Tsa'Labah datang ke masjid hanya pada waktu salat juhur dan ashar saja. Ketika jumlah kambingnya terus bertambah dan Tsa'Labah disibukkan olehnya, ia pun datang ke masjid ketika salat jumat.
Begitu derasnya harta yang mengalir di rumah Tsa'labah, membuat ia lebih senang tinggal di rumah dari pada jauh-jauh datang ke masdjid. Bahkan, kini untuk salat jumat pun ia sudah tak datang lagi ke masjid.
Hingga suatu ketika Rasululllah bertanya kepada para sahabat yang lain, "Wahai sahabatku. sudah sekian lama Tsa'Labah tidak kelihatan di masjid. Tahukan kalian kemana dan bagaimana keadaannya sekarang?" Salah seorang sahabat menjawab, "Wahai Rasululllah, Tsa'labah sudah menjadi orang kaya. Lembah-lembah di Madinah maupun di luar Madinah telah penuh sesak dengan kambing-kambingnya." Mendengar hal itu Rasulullah kembali bertanya, "Benarkah? Lalu mengapa ia tidak pernah menyerahkan sedekahnya sedikit pun?" Kali ini, tidak ada sahabat yang bisa menjawab.
Setelah Allah menurunkan ayat tentang kewajiban zakat, Rasululllah mengutus dua orang sahabat untuk menjadi amil zakat. Seluruh umat Islam di Madinah yang hartanya dipandang sudah mencapai nishab zakat didatangi, tak terkecuali Tsa'labah.
Tetapi, tak disangka Tsa'labah menolaknya. Dengan berang ia berkata, "Apa-apaan ini. Kalian mengatakan ini zakat tetapi menurutku ini lebih tepat disebut upeti! Pajak! Sejak kapan Rasululllah menarik upeti! Aku bisa rugi." ucap Tsa'Labah. "Kalian pulang saja aku tidak mau menyerahkan hartaku!" lanjutnya.
Kedua utusan Rasulullah kemudian menghadap Rasulullah dan menceritakan semua perbuatan Tsa'labah. Mendengar itu, Rasulullah bersedih telah kehilangan seorang sahabat yang dulu tekun beribadah ketika miskin, namun setelah kaya ia telah berubah. "Sungguh celaka Tsa'Labah, celakalah ia." kata Rasululah. Kemudian Allah menurunkan ayat 75-78 dalam surah At-Taubah [9] tentang ciri-ciri orang munafik.
Ayat ini segera menyebar ke seluruh Madinah sehingga ada salah seorang yang memberi tahu Tsa'labah. Tsa'labah tertegun, ia baru sadar bahwa nafsu angkara murka telah lama memperbudaknya. Ia pun bergegas menghadap Rasulullah dengan membawa zakat dari seluruh hartanya. Namun Rasulullah tidak berkata apa-apa kecuali hanya sepatah kata, "Sebab kedurhakaanmu, Allah melarangku untuk menerima zakatmu."
Rasulullah mengambil segenggam tanah lalu ditaburkan di atas kepala Tsa'labah, "Inilah perumpamaan amalanmu selama ini, sia-sia belaka. Aku telah perintahkan agar engkau menyerahkan zakat tetapi engkau menolak, celakalah engkau Tsa'labah." Tsa'labah akhirnya kembali ke rumahnya dengan penyesalan tanpa batas.
Sampai suatu hari terdengar kabar Rasululllah telah wafat, ia semakin bersedih karena taubatnya tidak diterima Rasululllah hingga beliau wafat. Tsa'labah mencoba mendatangi Khalifah Abu Bakar sebagai pengganti Rasulullah, ia datang membawa zakat. Abu Bakar hanya berkata "Rasulallah saja tidak mau menerima zakatmu, bagaimana mungkin aku dapat menerima zakatmu."
Demikian pula di zaman kekhalifahan Umar bin Khatab, Tsa'labah mencoba menyerahkan zakat. Tapi Umar tidak mau menerimanya sebagaimana Rasulullah dan Abu bakar tidak mau menerima zakat Tsa'labah. Bahkan sampai Khalifah Usman bin Affan, zakat Tsa'labah tidak diterima.
Demikianlah, kisah Tsa'labah jadi pengingat bagi kita akan bahaya harta dan kehidupan dunia yang seringkali melalaikan. Semoga bisa diambil hikmahnya. (ditulis ulang dari gindragunadi.blogspot.com)
(nb. Meskipun ada sebagian ulama yang menganggap hadis penolakan Tsa'labah untuk membayar zakat termasuk lemah, namun sebagai kisah hikmah, cerita Tsa'labah kiranya tetap dapat diambil manfaatnya.)
Tag :
Story
Telling Story Ande-Ande Lumut (daganganbersama)
Once upon a time,there are two
kingdoms, Jenggala and Kediri. Both came from a royal kingdom called Kahuripan.
The king grants the kingdom split into two to avoid a civil war. However,
before his death the king grants it gave the message that the kingdom should be
put back together.
Then
both the king was agreed to reunite the two kingdoms by marrying Jenggala crown
princes, Raden Panji Asmarabangun with Kediri Prices, Dewi Sekartaji.
Sekartaji
stepmother, the king’s concubine Kediri, do not want to marry Prince Sekartaji
because he wants his own biological daughter who later became queen Jenggala.
Therefore, he kept and hide Dewi Sekartaji and her mother.
At
raden Penji came to Karachi to marry Sekartaji, the Princes was gone. Raden
Panji very disappointed. Sekartaji stepmother persuaded her to remain married
to his doughter as a replacement Sekartaji, but Raden Panji refused.
Sejarah Hukum Archimedes
Kisah tentang Archimedes yang banyak diceritakan oleh orang adalah kisah saat Archimedes menemukan cara dan rumus untuk menghitung volume benda yang tidak mempunyai bentuk baku.
Pada masa itu, kapal yang dibuat oleh Archimedes adalah kapal yang terbesar. Untuk dapat mengambang, kapal ini harus dikeringkan dahulu dari air yang menggenangi dek kapal. Karena besarnya kapal ini, jumlah air yang harus dipindahkanpun amat banyak. Karena itu Archimedes menciptakan sebuah alat yang disebut "Sekrup Archimedes". Dengan ini air dapat dengan mudah disedot dari dek kapal.
Ukuran kapal yang besar ini juga menimbulkan masalah lain. Massa kapal yang berat, menyebabkan ia sulit untuk dipindahkan. Untuk mengatasi hal ini, Archimedes kembali menciptkan sistem katrol yang disebut "Compound Pulley". Dengan sistem ini, kapal tersebut beserta awak kapal dan muatannya dapat dipindahkan hanya dengan menarik seutas tali. Sistim katrol ini sampai sekarangpun masih diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, contohnya katrol sumur, katrol yang digunakan oleh tukang bangunan, dll.
Archimedes mendesain sejumlah alat pertahanan untuk mencegah pasukan Romawi di bawah pimpinan Marcus Claudius Marcellus, merebut tanah kelahirannya, Syracuse dan menyerang raja Hiero II. Saat armada Romawi yang terdiri dari 120 kapal mulai tampak di seberang lautan, Archimedes berfikir keras untuk mencegah dan menggangu tentara musuh merapat di pantai Syracuse.
Saat musuh mulai mengepung pantai Syracuse, Archimedes kembali mengeluarkan alat andalannya. yang disebut "Cakar Archimedes". Tujuannya kali ini adalah mencari cara untuk menenggelamkan kapal-kapal Romawi ini. Alat ini bentuknya mirip derek pada masa kini. Setelah alat ini secara diam-diam dikaitkan ke badan kapal musuh, derek ini kemudian ditarik. Akibanya kapal musuh akan oleng, atau bahkan robek dan tenggelam.
Walaupun pengungkit atau ungkitan telah ditemukan jauh sebelum Archimedes lahir, Archimedes yang mengembangkan teori untuk menghitung beban yang dibutuhkan untuk pengungkit tersebut.
Menurut kisah tersebut, sebuah mahkota untuk raja Hiero II telah dibuat dan raja memerintahkan Archimedes untuk memeriksa apakah mahkota tersebut benar-benar terbuat dari emas murni ataukah mengandung tambahan perak. Karena Raja Hiero II tidak mempercayai pembuat mahkota tersebut.
Saat Archimedes berendam dalam bak mandinya, dia melihat bahwa air dalam bak mandinya tertumpah keluar sebanding dengan besar tubuhnya. Archimedes menyadari bahwa efek ini dapat digunakan untuk menghitung volume dan isi dari mahkota tersebut. Dengan membagi berat mahkota dengan volume air yang dipindahkan, kerapatan dan berat jenis dari mahkota bisa diperoleh.
Berat Jenis mahkota akan lebih rendah daripada berat jenis emas murni apabila pembuat mahkota tersebut berlaku curang dan menambahkan perak ataupun logam dengan berat jenis yang lebih rendah. Karena terlalu gembira dengan penemuannya ini, Archimedes melompat keluar dari bak mandinya, lupa berpakaian terlebih dahulu, berlari keluar ke jalan dan berteriak "EUREKA!" atau '"Saya menemukannya".Mari kita melihat siapakah Archimedes dan alat-alat apa yang ia temukan untuk mempermudah hidup manusia. Archimedes (287-212 SM) adalah ahli matematika dan fisika ternama sepanjang masa. Ia dilahirkan di Syracuse ( sekarang Sisilia), Italia. Archimedes merupakan keponakan raja Hiero II yang memerintah di Sisilia waktu itu. Pamannya ini sering meminta tolong kepada Archimedes karena ia tahu keponakannya sangat pandai. Lewat tugas-tugas yang diberikan raja Hiero, Archimedes banyak mendapat penemuan baru.
Ia terkenal dengan teorinya tentang hubungan antara permukaan dan volume dari sebuah bola terhadap silinder, rumus hidrostatik dan peralatan untuk menaikkan air - 'Archimedes Screw'. Raja Hiero II kala itu terikat perjanjian dengan bangsa Romawi. Syracuse harus mengirimkan gandum dalam jumlah yang besar pada bangsa Romawi, agar mereka tidak diserang. Hingga pada suatu ketika Hiero II tidak mampu lagi mengirim gandum dalam jumlah yang ditentukan. Karena itu Archimedes ditugaskan merancang dan membuat kapal jenis baru untuk memperkuat angkatan laut raja Hiero II.Pada masa itu, kapal yang dibuat oleh Archimedes adalah kapal yang terbesar. Untuk dapat mengambang, kapal ini harus dikeringkan dahulu dari air yang menggenangi dek kapal. Karena besarnya kapal ini, jumlah air yang harus dipindahkanpun amat banyak. Karena itu Archimedes menciptakan sebuah alat yang disebut "Sekrup Archimedes". Dengan ini air dapat dengan mudah disedot dari dek kapal.
Ukuran kapal yang besar ini juga menimbulkan masalah lain. Massa kapal yang berat, menyebabkan ia sulit untuk dipindahkan. Untuk mengatasi hal ini, Archimedes kembali menciptkan sistem katrol yang disebut "Compound Pulley". Dengan sistem ini, kapal tersebut beserta awak kapal dan muatannya dapat dipindahkan hanya dengan menarik seutas tali. Sistim katrol ini sampai sekarangpun masih diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, contohnya katrol sumur, katrol yang digunakan oleh tukang bangunan, dll.
Archimedes mendesain sejumlah alat pertahanan untuk mencegah pasukan Romawi di bawah pimpinan Marcus Claudius Marcellus, merebut tanah kelahirannya, Syracuse dan menyerang raja Hiero II. Saat armada Romawi yang terdiri dari 120 kapal mulai tampak di seberang lautan, Archimedes berfikir keras untuk mencegah dan menggangu tentara musuh merapat di pantai Syracuse.
Archimedes kemudian mencoba membakar kapal-kapal Romawi ini dengan menggunakan sejumlah cermin yang disusun dari perisai-perisai prajurit Syracuse. Archimedes berencana untuk membakar kapal-kapal musuh dengan memusatkan sinar matahari. Namun rencana ini tampaknya kurang berhasil. Hal ini disebabkan untuk memperoleh jumlah panas yang cukup untuk membakar sebuah kapal, kapal tersebut haruslah diam. Walaupun hasilnya kurang memuaskan, dengan alat ini Archimedes berhasil menyilaukan pasukan Romawi hingga mereka kesulitan untuk memanah. Panas yang ditimbulkan dengan alat ini juga berhasil membuat musuh kegerahan, hingga mereka lelah sebelum berhadapan dengan pasukan Syrcuse.
Saat musuh mulai mengepung pantai Syracuse, Archimedes kembali mengeluarkan alat andalannya. yang disebut "Cakar Archimedes". Tujuannya kali ini adalah mencari cara untuk menenggelamkan kapal-kapal Romawi ini. Alat ini bentuknya mirip derek pada masa kini. Setelah alat ini secara diam-diam dikaitkan ke badan kapal musuh, derek ini kemudian ditarik. Akibanya kapal musuh akan oleng, atau bahkan robek dan tenggelam.
Panjang dan lebar benda kotak atau persegi mudah diukur dengan penggaris, namun siapa yang berhasil menghitung ukuran bola? Perhitungan dari Archimedes yang akurat tentang lengkungan bola diajdikan konstanta matematika untuk Pi atau π .
Walaupun pengungkit atau ungkitan telah ditemukan jauh sebelum Archimedes lahir, Archimedes yang mengembangkan teori untuk menghitung beban yang dibutuhkan untuk pengungkit tersebut.
Buku-buku yang ditulis oleh Archimedes dan berisikan rumus-rumus matematika masih dapat ditemukan sekarang, antara lain On the Equilibrium of Planes, On the Measurement of a Circle, On Spirals, On the Sphere and the Cylinder dan lain sebagainya. Teori-teori matematika yang dibuat oleh Archimedes tidak berarti banyak untuk perkembangan ilmu pengetahuan saat Archimedes meninggal. Tetapi setelah karyanya di terjemahkan ke dalam bahasa Arab pada abad 8 dan 9 (kurang lebih 1000 tahun setelah Archimedes meninggal), beberapa ahli matematika dan pemikir Islam mengembangkan teori-teori matematikanya. Tetapi yang paling berpengaruh terhadap perkembangan dan perluasan teori matematika tersebut adalah pada abad 16 dan 17, dimana pada abad itu, mesin cetak telah ditemukan. Banyak ahli matematika yang menjadikan buku karya Archimedes sebagai pegangan mereka, dan beberapa ahli matematika tersebut adalah Johannes Kepler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1642).
Tag :
Story




